Wisata Budaya / Culture

Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu

 

Penyambutan Bupati Kapuas Hulu secara adat

Kabupaten Kapuas Hulu terdiri dari dua etnis besar yaitu Dayak dan Melayu yang masing-masing memiliki tradisi seni dan budaya yang beragam. Seni budaya tersebut tumbuh berkembang secara tradisional dan turun temurun dari generasi ke generasi serta memiliki karakteristik tersendiri yang masih bersifat alami, meskipun seiring dengan perkembangan jaman, beberapa nilai tertentu mengalami perubahan dan modifikasi akan tetapi tidak mengurangi nilai dari adat istiadat budaya kedua etnis tersebut.

Keberagaman tersebut selain menjadi warisan budaya yang harus terus dilestarikan, juga menjadi daya tarik tersendiri sebagai salah satu obyek wisata yang dapat dinikmati di Kabupaten Kapuas Hulu. Keberagaman budaya ini akan memberikan nilai tambah bagi kemenarikan destinasi pariwisata di Kabupaten Kapuas Hulu, sehingga wisatawan dapat menikmati berbagai atraksi pariwisata.

Upacara adat Sekapur Sirih Melayu

Adapun beberapa jenis budaya Dayak dan Melayu di Kabupaten Kapuas Hulu yang dapat dijadikan sebagai atraksi wisata antara lain :

  1. Atraksi seni yang dikelola oleh 32 buah sanggar Dayak dan 21 buah Sanggar Melayu, serta seniman produktif sekitar 30 Orang terdiri dari: Seni Musik, Seni Teater, Seni Sastra, Seni Rupa, Seni Kriya Dayak dan Melayu baik tradisional maupun non-tradisional.
  1. Upacara adat/ritual adat baik dari suku Dayak maupun suku Melayu yang sangat unik yaitu:
    • Dari suku Melayu berupa : Upacara Tepung Tawar, Tarian Jepin, Syair, dan Pantun, yang sering digunakan pada upacara adat dalam menyambut tamu tertentu baik itu pejabat negara maupun daerah serta juga di gunakan pada saat upacara adat lainnya.
    • Dari suku Dayak berupa : Barangis dari suku Dayak Embaloh, Nyonjoan dari suku Dayak Embaloh, Mandung  dari suku Dayak Taman, Bejande, Betimang dan Bedudu dari suku Dayak Kantuk, Dange’ dari suku Dayak Kayan mendalam, Ngajat dan Sandauari dan Gawai Kenalang dari suku Dayak Iban.

Kehidupan dan Hasil Kerajinan Masyarakat Setempat

Seni Anyaman Masyarakat Bukat

Kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, terutama di sekitar obyek wisata masih alami dan menggunakan tradisi dan budaya yang telah turun temurun diterapkan dalam keseharian mereka, seperti mata pencaharian dan hasil kerajinan lokal, serta perkampungan tradisional.

Produk budaya setempat berupa hasil seni ukir dan hasil kerajinan, seperti:

  • Tenun Ikat Tradisional
  • Anyam-Anyaman
  • Manik-manik
  • Ukir-Ukiran
  • Tameng/Perisai
  • Lukisan
  • Pandai Besi

Perkampungan Tradisional.

Perkampungan Tradisional

Perkampungan tradisional di Kabupaten Kapuas Hulu yang tersebar di berbagai kecamatan, memiliki ciri khas berupa rumah tinggal yang masih tradisional yaitu rumah betang atau rumah panjang bagi masyarakat Dayak dan pemukiman tradisional masyarakat Melayu yang umumnya berada di pinggir sungai.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Dayak, rumah adat betang panjang yang menjadi tempat tinggal komunitas setiap suku yang ada di Kabupaten Kapuas hingga saat ini masih dapat dikunjungi dan menjadi salah satu obyek wisata yang diminati oleh wisatawan.

Beberapa rumah adat betang panjang yang masih unik dari Suku Dayak antara lain :

  1. Rumah Adat Betang Panjang Malapi Patamuan.
  2. Rumah Adat Betang Panjang Semangkok.
  3. Rumat Adat Betang Panjang Bukung.

Cagar Budaya dan Situs Purbakala

  1. Situs Purbakala Neolitikum Nanga Balang

Situs Purbakala Neolitikum Nanga Balang

Kawasan Neolitikum Nanga Balang ditetapkan sebagai situs purbakala berdasarkan penelitian arkeologi Banjar Masin tahun 2006 dengan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Kawasan Neolitikum Nanga Balang terletak di Dusun Beringin Jaya, Desa Nanga Balang, Kecamatan Putussibau Selatan. Untuk mencapai lokasi menggunakan transportasi air dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Masyarakat yang mendiami sekitar kawasan adalah Suku Dayak Punan Nanga Balang.

 

  1. Rumah Betang Melapi Patamuan

Rumah Betang Melapi

Rumah Betang Melapi yang didirikan pada tahun 1942 ini berada di Desa Melapi, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, dengan luas bangunan 4.455m, memiliki 34 bilik/ruang, dan luas keseluruhan 12.375m. Jarak tempuh dari ibukota Kabupaten sekitar 30 menit dengan menggunakan transportasi darat atau sungai. Masyarakat yang mendiami rumah betang ini adalah Suku Dayak Taman Kapuas dengan adat istiadat dan budayanya, seperti upacara/ritual adat, tarian tradisional, dan kerajinan manik-manik. Matapencaharian masyarakat di rumah betang Melapi kebanyakan adalah bertani. Rumah Betang Melapi ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Rumah Betang lunsa Hilir

Rumah Betang Lunsa Hilir

Rumah betang Lunsa Hilir terletak di dusun Danum Dara, Desa Orang Lunsa, Kecamatan Putussibau Selatan didirikan pada tahun 1942. Rumah betang ini memiliki luas bangunan 1.980m, luas keseluruhan 18.900m, dengan 29 bilik/ruang yang didiami oleh masyarakat Suku Dayak Taman Kapuas. Dari ibukota Kabupaten, rumah betang ini berjarak sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua. Matapencaharian masyarakat setempat adalah bertani. Rumah betang ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Rumah Betang Semangkok

rb semangkok

Rumah Betang Semangkok didirikan pada tahun 1914 dan ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Rumah betang ini berada di Dusun Sinsiung Amas, Desa Ariung Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Luas bangunan 840m, memiliki 14 bilik/ruang, dan luas keseluruhan 6.088m. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten sekitar 1 jam dengan menggunakan transportasi air. Masyarakat yang mendiami rumah betang ini adalah Suku Dayak Taman Mendalam dengan adat istiadat dan budayanya, seperti upacara/ritual adat, tarian tradisional, dan kerajinan manik-manik. Matapencaharian masyarakat di rumah betang Melapi kebanyakan adalah bertani.

 

  1. Rumah Betang Benua Tengah

Rumah Betang Benua Tengah

Rumah Betang Banua Tengah didirikan pada tahun 1864, terletak di Dusun/Desa Benua Tengah, Kecamatan Putussibau Utara. Rumah betang ini memiliki luas bangunan 2.715.6cm, luas keseluruhan 11.088m, dengan 38 bilik/ruang yang didiami oleh masyarakat Suku Dayak Tamambaloh dengan adat istiadat dan tradisi budaya setempat, seperti upacara/ritual adat, musik tradisional, tarian tradisional, dan kerajinan tangan. Dari ibukota kabupaten, rumah betang ini berjarak sekitar 2 jam dan sekitar 15 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua. Matapencaharian masyarakat setempat adalah bertani. Rumah betang ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Rumah Betang Panjang Na. Nyabau

Rumah Betang Nanga Nyabau

Rumah Betang Na. Nyabau ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Rumah betang ini didirikan pada tahun 1948, berada di Dusun/Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu. Rumah betang ini memiliki luas bangunan 2.560m, 35 bilik/ruang, dan luas keseluruhan 20.000 m. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten sekitar 2 jam 30 menit dan kurang lebih 2 menit dari dusun/desa dengan menggunakan transportasi darat. Masyarakat yang mendiami rumah betang ini adalah Suku Dayak Iban dengan adat istiadat dan budayanya, seperti upacara/ritual adat, tarian tradisional, dan kerajinan tangan. Matapencaharian masyarakat kebanyakan adalah bertani dan berburu.

 

  1. Rumah Betang Panjang Bukung
Rumah Betang Bukung
Rumah Betang Bukung

Rumah Betang Bukung yang didirikan pada tahun 1509 ini berada di Dusun Bukung Desa Benua Martinus, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, dengan luas bangunan 1.144 m, memiliki 28 bilik/ruang, dan luas keseluruhan 9.000m. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten sekitar 3 jam dan kurang lebih 25 menit dari dusun/desa dengan menggunakan transportasi darat. Masyarakat yang mendiami rumah betang ini adalah Suku Dayak Tamanbaloh dengan adat istiadat dan budayanya, seperti upacara/ritual adat, tarian tradisional, dan kerajinan manik-manik. Matapencaharian masyarakat di rumah betang Panjang Bukung sebagian besar adalah bertani. Rumah betang ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Rumah Betang Panjang Sei Utik

Rumah Betang Sungai Utik

Rumah betang Sungai Utik ini terletak di Dusun Sungai Utik Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu. Didirikan pada tahun 1975, rumah betang ini memiliki luas bangunan 3.600m dan luas keseluruhan 11.088m, dengan 38 bilik/ruang yang didiami oleh masyarakat Suku Dayak Iban Sungai Utik dengan adat istiadat dan tradisi budayanya, seperti upacara/ritual adat, tarian tradisional, dan kerajinan manik-manik. Dari ibukota kabupaten, rumah betang ini berjarak sekitar 2 jam dan sekitar 15 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua. Matapencaharian masyarakat setempat adalah bertani. Rumah betang ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Rumah Duka Tradisional Surambi/Kulambu
Kulambu Semangkok
Kulambu Semangkok

Surambi/Kulambu adalah nama rumah duka/mayat tradisional masyarakat Suku Dayak Taman Mendalam yang didirikan mulai tahun 1945, dengan luas bangunan 7.2 cm dan luas keseluruhan 6.825m. Menurut adat tradisi setempat, setelah meninggal, jenasah tidak dimakamkan seperti pada umumnya, tetapi diletakkan di Surambi/Kulambu. Lokasi rumah duka ini terletak di Dusun Sinsiung Amas, Desa Ariung Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, sekitar 1 jam dari ibukota kabupaten dan kurang lebih 10 menit dari desa/dusun dengan menggunakan transportasi air. Rumah duka ini ditetapkan sebagai cagar budaya derdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012.

 

  1. Makam Kerajaan Selimbau
Makam Tua Kerajaan Selimbau
Makam Tua Kerajaan Selimbau

Makam kerajaan Selimbau yang berada di Dusun Mungguk Batu, Desa Gudang Hulu, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu ini mulai didirikan/digunakan pada tahun 1775. Makam yang memiliki luas bangunan 180m dan luas keseluruhan 5.000m, ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Untuk mencapai lokasi makam, dapat menggunakan transportasi air dengan jarak tempuh sekitar 4 jam dari ibukota kecamatan dan kurang lebih 20 menit dari dusun/desa. Masyarakat setempat adalah Suku Melayu Selimbau, dengan matapencaharian utama sebagai nelayan dan pedagang.

 

  1. Gereja Tua Bersejarah St. Fedelis

Gereja Tua St. Fedelis Sejiram

Gereja St. Fedelis didirikan pada tahun 1892 di Dusun/Desa Sejiram, Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, memiliki luas bangunan 360.68cm dan luas keseluruhan 113.877m. Gereja ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012 dan SK Menbudpar No. KM10/PW007/Mkp03 Tanggal 4 Maret Tahun 2003. Lokasi Gereja St. Fedelis dapat dicapai dengan menggunakan transportasi darat dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dari ibukota kecamatan. Masyarakat setempat adalah Suku Dayak Kantuk Suhaid, dengan matapencaharian utama bertani dan berburu.

 

  1. Masjid Baiturrahman
Masjid Baiturrahman Nanga Bunut
Masjid Baiturrahman Nanga Bunut

Masjid yang didirikan pada tahun 1282 H atau tahun 1861 Masehi ini berada di dusun Baiturrahman, Desa Bunut Tengah, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Masjid ini memiliki luas bangunan 1.298.86cm dan luas keseluruhan 2.259m, dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 2 jam dari ibukota kecamatan dengan menggunakan transportasi air. Masjid Baiturrahman ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Latar belakang masyarakat setempat adalah Melayu Nanga Bunut yang sebagian besar matapencahariannya adalah nelayan dan berdagang.

 

  1. Masjid Jami Al’taqwa Selimbau
Masjid Jami Selimbau
Masjid Jami Selimbau

Masjid Jami Al’taqwa didirikan pada tahun 1775 Masehi, berada di Dusun Parit, Desa Dalam, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu. Masjid dengan luas bangunan 750m dan luas keseluruhan 2.000m ini dapat ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam dari ibukota kecamatan dengan menggunakan transportasi air. Masjid Jami Al’taqwa ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Latar belakang masyarakat setempat adalah Melayu Selimbau yang sebagian besar matapencahariannya adalah nelayan dan berdagang.

 

  1. Kawasan Anggrek Hitam
Kawasan Anggrek Hitam
Kawasan Anggrek Hitam

Kawasan Anggrek Hitam berada di Dusun Mungguk Batu, Desa Gudang Hulu, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu. Kawasan salah satu tumbuhan langka dan dilindungi ini ditetapkan berdasarkan SK Bupati No.212/Th 2012 Tanggal 21 Juni Tahun 2012. Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan   menggunakan transportasi air, sekitar 4 jam dari ibukota kecamatan dan kurang lebih 20 menit dari dusun/desa.

 

  • Hasil Kerajinan Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Hasil Kerajinan Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Ladung salah satu hasil kerajinan masyarakat Dusun Kelayam, Desa Manua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu.
  • Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Proses memisahkan butiran padi dari tangkainya secara tradisional
  • Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Proses membersihkan butiran padi secara tradisional
  • Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Proses menyadap air enau (pohon aren) secara tradisional
  • Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Proses mencari tumbuhan resam sebagai bahan untuk membuat gelang anyaman dan untuk lilitan pada gagang parang.
  • Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu
    Aktivitas masyarakt di pinggiran sungai.