Wisata Alam / Nature

Keindahan dan keunikan alamnya merupakan kebanggaan Kabupaten Kapuas Hulu, dengan 2 (dua) Taman Nasional yang telah dikenal secara luas, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), menjadikan Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi yang mempunyai komitmen mendukung pelestarian alam dan pengembangan pariwisata yang berbasis lingkungan dan masyarakat. Kedua Taman Nasional tersebut memiliki fungsi dan keunikannya masing-masing serta keragaman flora dan faunanya.

TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK)

Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) adalah kawasan konservasi terbesar di Propinsi Kalimantan Barat dengan total area 800.000 hektar atau sekitar 5,5% dari luas total daratan Propinsi Kalimantan Barat. Di sebelah utara, kawasan Taman Nasional Betung Kerihun berbatasan dengan negara bagian Sarawak Malaysia, sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur dan sebelah selatan berbatasan dengan Banua Martinus dan Putussibau, serta berbatasan dengan wilayah Lanjak/Nanga Badau di sebelah barat. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagian besar berbukit dan bergunung serta sedikit dataran dengan ketinggian. Kawasan bukit dan gunung terdiri dari rangkaian pegunungan Kapuas Hulu di bagian Utara yang berbatasan dengan Serawak Malaysia dan bagian Timur adalah pegunungan Muller yang berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur. Sistem hidrologi di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) cukup unik dengan ratusan jaringan sungai kecil dan besar yang termasuk dalam sistem besar daerah aliran sungai (DAS) Kapuas.

Taman Nasional Betung Kerihun

Keanekaragaman ekosistem di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sangat tinggi dan keadaan vegetasi hutannya masih baik dan relatif utuh. Dengan adanya perbedaan jenis ekosistem hutan, pengunjung di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dapat melihat dan membedakan pula jenis tumbuhan yang dibedakan berdasarkan ketinggian lokasi hutan. Selain itu kegiatan ekowisata seperti trekking di dalam kawasan dan berkemah merupakan kegiatan yang menarik untuk dilakukan oleh pengunjung. Wilayah timur Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di wilayah dataran yang lebih tinggi banyak terdapat riam di sungainya sehingga pengunjung bisa melakukan kegiatan arung jeram dengan menelusuri hulu Sungai Kapuas.

Di kawasan ini juga kaya akan jenis flora dan fauna yang sangat beragam dan beberapa diantaranya jenis baru. Keanekaragaman flora yang tinggi ini terlihat juga dengan jenis disetiap famili. Suku Dipterocarpaceae misalnya, mempunyai jumlah jenis terbesar, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Marga Shoreal saja mempunyai jumlah jenis tidak kurang dari 30 jenis. Suku tumbuhan lain yang mempunyai jumlah tidak kurang dari 30 jenis. Suku tumbuhan lain yang mempunyai jumlah jenis banyak adalah eyphorbiaceae (73 jenis), Clysiaceae (33 jenis), Byrseraceae (30 Jenis), Mrytaceae (28). Selain itu masyarakat di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) juga memanfaatkan keanekaragaman flora untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk keanekaragaman jenis fauna di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) cukup tinggi, baik yang belum maupun yang sudah dilindungi oleh Peraturan Perundangan-undangan. Untuk kelompok mamalia telah terinventarisir sebanyak 48 jenis mamalia, diantaranya adalah Macan Dahan (Neofolis nebulosa), Kucing Hutan (Felis bengalensis), Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kijang Emas (Muntiacus atherodes), Rusa Sambar (Cervus sp.) dan Kancil (Tragulus napu) dan satu jenis berang-berang (Lutra Sumatrana) yang masih bisa ditemui di daerah aliran sungai Mendalam. Untuk jenis ikan di Taman Nasional Betung Kerihun tergolong tinggi, paling tidak ditemukan tiga jenis ikan yang salah satunya ikan pelekat yang diberi nama Gastromyzon embalohensis IR Spec, sedangkan dua jenis lainnya masih dalam kajian ilmiah untuk pemberian nama. Salah satu jenis ikan yang berpotensi untuk dibudidayakan sebagai ikan konsumsi adalah ikan Semah ( Tor tambroides) yang saat ini banyak ditangkap oleh masyarakat untuk diperjualbelikan. Dari kelompok serangga di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) tidak kurang dari 170 jenis yang telah teridentifikasi. Kelompok burung teridentifikasi sebanyak 301 jenis yang tergolong dalam 151 marga dan 36 suku. Diantaranya terdapat 15 jenis yang merupakan pendatang (migran), sebanyak 6 jenis merupakan temuan baru untuk di Indonesia, yaitu Acciper nisus, Dendricitta cinerascent, Ficedula parva, Luscinia calliope, Pycononotus flasvescent, dan Rhinomyas brunneata. sedangkan 63 jenis merupakan jenis burung yang dilindungi oleh undang-undang, termasuk juga didalamnya adalah maskot fauna Propinsi Kalimantan Barat yaitu burung Enggang Gading (Buceros vigil) dan 24 jenis lainnya merupakan jenis endemik untuk Borneo. Terdapat beberapa jenis burung yang sering dijumpai di Taman Nasional Betung Kerihun. Untuk jenis herpetofauna (amphibi dan reftilia) di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), dari 1.500 spesies yang berhasil dikumpulkan, 103 jenis diantaranya telah dapat diidentifikasi terdiri dari: 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura dan 21 jenis ular. Namun ada hal yang menarik dengan ditemukannya salah satu jenis katak terkecil di dunia yang ukuran dewasanya kurang dari 1 (satu) centimeter, yaitu Leptobrachella myorbergi.

Penduduk yang bermukim di sekitar kawasan yang lebih sering disebut sebagai daerah penyangga, pada umumnya adalah suku Dayak. Di bagian barat kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) sebagian besar berasal dari Suku Dayak Iban dan Dayak Tamambaloh, sementara di bagian tengah sebagian besar di tempati Suku Dayak Bukat, dan di bagian timur adalah Suku Dayak Punan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat tersebut tergantung pada sumber daya alam sekitar tempat tinggal mereka, diantaranya sebagai peladang, pemungut kayu gaharu, pemungut buah tengkawang, pemburu dan pencari ikan. Setidaknya terdapat 12 Desa yang terbagi dalam 34 dusun penyangga terdekat yang berada di dalam dan sekitar Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK).

Untuk kegiatan ekowisata masyarakat berperan sebagai dinamisator, dimana masyarakat Taman Nasional Betung Karihun terlibat langsung dalam membantu terselenggaranya ekowisata, seperti bersedianya masyarakat menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal (Homestay) dan membantu kebutuhan (porter) para pengunjung yang ingin menikmati keindahan dan keunikan dari Taman Nasional Betung Kerihun serta menyewakan alat trasportasi (longboat). Biaya keseharian pengunjung dapat langsung diberikan kepada masyarakat. Pengunjung juga dapat membeli cendramata berupa hasil kerajinan masyarakat seperti kain tenun, anyaman dan ukiran kayu.

 TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM (TNDS)

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dengan luas area sekitar 132..000 hektar merupakan perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan. Terletak di kabupaten paling timur Provinsi Kalimantan Barat yang meliputi 7 kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu Kecamatan Batang Lupar, Badau, Embau, Bunut Hilir, Suhaid, Selimbau, dan Semitau. Di kawasan ini terdapat berbagai obyek wisata yang unik, menarik, dan menantang, seperti wisata hutan, wisata pendidikan, wisata danau, wisata desa, wisata budaya, dan lain sebagainya. Dibatasi oleh bukit-bukit dan dataran tinggi yang mengelilinginya, Danau Sentarum merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Dengan demikian, daerah-daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut. Kawasan danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen ini semakin lengkap dengan adanya empat pegunungan yang bagai pengawal abadinya tersebut, yaitu pegunungan Lanjak di sebelah timur, pegunungan Muller di sebelah barat, pegunungan Madi di sebelah selatan, dan pegunungan Kelingkang di sebelah utara.

Taman Nasional Danau Sentarum

Sistem perairan danau air tawar dan hutan tergenang ini menjadikan Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Pada saat musim hujan, kedalaman danau mencapai 6-8 meter, menyebabkan tergenangnya hutan sekitarnya. Pada musim kemarau, Sungai Kapuas berangsur-angsur turun, air Danau Sentarum akan mengalir ke Sungai Kapuas sehingga debit air di sungai tersebut relatif stabil. Akhirnya pada saat puncak musim kemarau, keadaan Danau Sentarum dan daerah sekitarnya akan menjadi hamparan tanah yang luas. Ikan-ikan yang tadinya berada di danau, akan terlihat di kolam-kolam kecil.

Kekayaan jenis flora yang terdapat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang tercatat hingga saat ini berjumlah 675 jenis, tergolong dalam 97 Familia. Dari jumlah tersebut 33 jenis merupakan jenis endemik dan 10 jenis merupakan jenis baru. Sementara untuk jenis fauna, Mamalia (Mamal) 147 jenis (Hampir 2/3 atau 64 % mamalia Kalimantan terdapat disini), Reptilia (Reptil) 31 jenis, Aves (Burung) 310 jenis,dan Pisces (Ikan) 266 jenis. Sekitar 78 % jenis ikan Kalimantan dapat ditemukan disini. Selain itu, di kawasan ini memiliki potensi lebah madu liar yang dikelola oleh masyarakat setempat dan telah mendapatkan sertifikat madu hutan organik dari BIOcert (certified organic).

Kehidupan masyarakat yang berada di sekitar taman nasional yaitu Suku Dayak Iban, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan yang masih tradisional. Rumah panjang (Betang) yang dihuni oleh suku tersebut beragam besarnya, ada yang dihuni lima sampai delapan kepala keluarga dan ada yang dihuni 15 sampai 30 kepala keluarga. Rumah panjang yang dihuni 15-30 kepala keluarga, mempunyai panjang rata-rata 186 meter dan lebar 6 meter. Kehidupan di rumah betang memperlihatkan suatu kerukunan, kepolosan dan keramah tamahan suku tersebut. Sementara masyarakat suku Melayu umumnya berasal dari kota-kota yang berada di sepanjang Sungai Kapuas, seperti Suhaid, Selimbau, dan Jongkong. Pada awalnya, mereka masuk kawasan TNDS untuk menangkap ikan, dan tidak berdiam secara permanen. Akan tetapi kini sudah banyak pemukiman permanen lengkap dengan rumah ibadah, puskemas dan sekolah. Di setiap kampung terdapat rukun nelayan, yaitu institusi yang mengatur pemanfaatan sumber daya perikanan. Bentuk organisasi rukun nelayan ini sederhana, umumnya terdiri atas ketua, wakil ketua dan sekretaris. Setiap tahun setiap rukun nelayan mengadakan musyawarah untuk menetapkan alokasi sumber daya ikan, penggunaan alat-alat tangkap, dan waktu penangkapan ikan.

Baik suku Melayu maupun Dayak mengelola sumber daya di TNDS sebagai sumber daya bersama (common pool resources), walaupun hak-hak individu tetap diakui. Hak-hak untuk memanfaatkan sumber daya alam, diberikan kepada anggota-anggota masyarakat adat melalui musyawarah. Pada dasarnya akses untuk memanfaatkan sumberdaya alam terbuka bagi setiap individu selama ada permintaan izin atau tercapai kesepakatan sebelum dilakukan eksploitasi. Mekanisme adat yang mengatur penggunaan sumberdaya alam di TNDS bersifat dinamis dan adaptif terhadap perubahan.

               Untuk mencapai Kawasan, beberapa pilihan rute dapat ditempuh. Bagi wisatawan yang memilih transportasi udara, dapat memulai perjalanan dari Bandara Supadio Pontianak menggunakan pesawat menuju Bandara Pangsuma Kota Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 15 menit. Dari Kota Putussibau, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju TNDS dengan naik speedboat atau longboat via Nanga Suhaid, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam, atau menggunakan transportasi darat Putussibau-Lanjak dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam. Wisatawan yang ingin menggunakan transportasi darat, dapat naik bus dari Kota Pontianak menuju Kota Putussibau. Dari Kota Putussibau, perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu motor menuju TNDS. Selain rute  Pontianak-Putussibau, wisatawan dapat juga mengunjungi TNDS melewati rute Pontianak-Sintang-Semitau dengan waktu sekitar 11 jam. Kemudian, dari Semitau perjalanan dilanjutkan dengan naik speedboat atau longboat jurusan Lanjak.

           Di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum terdapat beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan, seperti pemandu wisata, kantor suaka marga satwa, pusat penelitian, laboratorium, persewaan perahu untuk mengelilingi Danau Sentarum, shelter, dan warung. Nelayan di kawasan tersebut juga menjual aneka jenis ikan segar yang dapat dinikmati langsung di pinggir danau dengan cara dibakar atau digoreng.

            Bagi wisatawan yang ingin bermalam, dapat menginap di rumah-rumah penduduk di sekitar taman nasional atau di penginapan kelas melati yang terdapat di Lanjak, Semitau, dan Selimbau. Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana yang berbeda, dapat menginap di rumah terapung (lanting) yang banyak ditemui di Semitau atau di atas perahu motor (bandung) yang ada di sekitar Danau Sentarum. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menyatu dengan alam, dapat berkemah di berbagai lokasi yang ada di kawasan tersebut. Sebagai oleh-oleh, wisatawan dapat membeli madu murni, ikan asin beraneka jenis, dan pernak-pernik khas Suku Dayak yang banyak dijual di perkampungan Suku Dayak Iban.

Selain kedua Taman Nasional tersebut, masih banyak atraksi dan lokasi wisata alam yang dapat dinikmati diberbagai tempat di Kabupaten Kapuas Hulu, seperti air terjun, danau, gurung, dan lain-lain.

  • Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Pemandangan danau dengan latar perbukitan dan langit biru yang terpantul di air danau yang berwarna coklat kehitaman
  • Bukit Tekenang, Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Bukit Tekenang, Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Resort Bukit Tekenang, Tempat yang indah untuk menginap, menikmati alam dan mengamati satwa liar, serta melihat view danau dari puncak Bukit Tekenang.
  • Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)
    Menyusuri danau merupakan salah satu aktivitas wisata yang menarik untuk dilakukan sambil mengunjungi pulau-pulau yang ada di kawasan Danau Sentarum.