Dusun Wisata Meliau Sebagai Sensasi Pedalaman Kalimantan

Mulai tahun 2009, Desa Meliau mulai banyak didatangi para turis dan disebut sebagai Dusun Wisata Meliau. Kebanyakan turis adalah asal Eropa, Jepang, dan Amerika yang tertarik dengan petualangan alam liar. Tak sedikit juga peneliti yang datang.

Perlahan nama Dusun Wisata Meliau juga terdengar di negara tetangga Malaysia yang lebih mudah untuk berkunjung. “Yang sulit itu mengubah beberapa kebiasaan masyarakat sini. Kalau banyak tamu kan kami jadi sibuk dan tak sempat lah meladang atau memancing untuk makan,” ucap Tamin, penduduk setempat. Padahal hasil meladang dan memancing penting untuk kebutuhan sendiri setiap keluarga.

Dusun Wisata Meliau juga didukung oleh Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum atau BBTN BKDS. “Kami mendukung selama pemanfaatannya baik dan tidak merusak lingkungan. Pasti kami dukung,” kata Alexander Melat Aryasa, petugas Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Tingkat Pertama dari Balai. Dusun Wisata Meliau letaknya berada di dalam Taman Nasional Betung Karihun dan Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Setiap turis yang masuk haruslah meminta izin dari kantor Balai demi alasan keselamatan dan keamanan.

Selain menikmati pemandangan yang hijau dan segar, beberapa kegiatan yang menarik para turis adalah menjelajah hutan di bukit Peninjau dan memancing di sungai Lewoyan. Di hutan wisatawan bisa menikmati keragaman hayati Kalimantan. Kalau beruntung bisa bertemu berbagai hewan langka seperti monyet ekor panjang, burung elang, dan orangutan. Tentu saja kalau beruntung. Satu lagi favorit turis adalah memancing. Bukan sembarang mancing. Yang dipancing adalah ikan Arwana.

Bermalam di rumah tradisional Dayak Iban yaitu Rumah Panjang atau Panjai. Rumah yang bentuknya memanjang di pinggir sungai. Rumah Panjang ini isinya 11 pintu rumah kepala keluarga. Tiap kepala keluarga menyediakan setidaknya 1 kamar untuk para turis. Jangan khawatir, toiletnya sudah dibangun modern dengan air gunung yang segar untuk berbilas para turis. Para turis bebas berinteraksi dengan para penduduk lokal. Bila mau bisa juga ikut berladang atau memancing bersama mereka. Pemilik rumah juga menyediakan makanan dan minuman sesuai pesanan turis. Turis diajak merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat adat setempat.